Rabu, 27 Juni 2012

PENGARUH CAMPURAN ASAM ASETAT DAN ASAM SITRAT SEBAGAI PELARUT KITOSAN TERHADAP SIFAT EDIBLE FILM YANG DIHASILKAN

ABSTRAK

Penelit ian untuk mendapatkan  edible f ilm kitosan dengan sifat lebih baik dengan
menggunakan pelarut campuran asam asetat dan asam sitrat telah dilakukan. Pada penelitian
ini dipelajari pengaruh proporsi campuran asam asetat dan sitrat sebagai pelarut kitosan terhadap
karakteristik edible film  yang dihasilkan. Hasilnya menunjukkan bahwa proporsi campuran asam
asetat dan sitrat sebagai pelarut kitosan berpengaruh nyata terhadap kekuatan regang, ketebalan
(P<0,05), dan berpengaruh sangat nyata terhadap elongasi  dan permeabilitas uap air (P<0,01)
edible film kitosan. Penggunaan asam asetat dan sitrat pada proporsi seimbang sebagai pelarut
kitosan memberikan  edible film kitosan dengan sifat terbaik.
Kata Kunci : edible film, kitosan, pelarut, karakteristik

Tertarik dengan Detailnya email aja ya


ORGANOLEPTIK & SENSORI UDANG MENGGIURKAN

Ada pecinta seafood ...? atau pecinta makanan yang enak...? ditambah lagi dengan makanan gratis ? mau?
Banyak orang yang tidak mengenal istilah sensori, organolepti atau uji kesukaan lainya. Istilah ini banyal dikenal oleh akademisi yang mengambil kuliah mengenai pangan atau yang terkait. Secara awam istilah ini dapat diartikan mencicip makanan.

Mencicip makanan dalam Industri pangan tidak segampang jika kita sedang memasak di dapur, ambil satu sendok dan di cicip. Di dunia pangan, setidaknya dibutuhkan panelis (penguji atau tukang icip) yang sudah melalui seleksi atau di sertifikasi. Seperti saya ini, sudah tersertifikasi sebagai panelis udang Segar dan Ikan segar atau disebut juga dengan panelis terlatih. 

Sebagai panelis terlatih saya dan kelompok panelis lainya diminta untuk menilai suatu produk/makanan, melihat perbedaanya dan bahkan, disuruh menentukan mana produk yang sama atau tidak. Bahkan bentuknya mirip sekali. Enak bukan kalau jadi panelis...? bisa icip ikan segar, udang segar, cumi dan produk yang lain...? ayo mau...?. Tapi jangan iri dulu, bagaimana kalau yang dinilai itu ikan yang sudah disimpan seminggu, atau produk yang tidak familiar dengan kita.. Disitu letak tantangannya
pengujian hari kedua

Shrimp is analysed  sensory   by trainned tester/Lagi an alisa udang segar 8X2, mayan buat makan siang (Hari 1)

Di dunia Industri, penerimaan dari panelis (sensory) sangat menentukan apakah suatu produk baru dianggap layak untuk di lauching ke masyarakat, hebat bukan..? Sederhana saja, jika kita membei ikan ke pasar, kita tidak mungkin menguji ikan dengan test kit atau alat lainya, tapoi kita menilainya dari penampakannya, itulah contoh sensori sederhana

Senin, 25 Juni 2012

Rumput Laut Dari Bumbu Masak, Sayuran Hingga Global Warming

Rumput laut, Seaweed merupakan jenis Algae yang sudah banyak di manfaatkan oleh masyarakat sejak zaman dulu seperti, Jepang, China, Korea. Rumput laut ini dikelompokan kepada zat warna dari rumput laut tersebut, maka kita mengenal jenis Rumput Laut Merah, Rumput Laut Coklat, (Memiliki ekonomi tinggi). Walaupun yang katanya rumput laut merah, dia malah secara fisik kelihatan berwarna hijau, jangan salah ya. Heee
Rumput laut sangat berkembang di Indonesia, terutama sekitar 10 tahun terakhir ini, dimana Indonesia merupakan salah satu negara terbesar penghasil rumput laut Dunia, bahkan mengalahkan Filipina. Kita berada di Peringkat ke Dua. Namun komoditas ini belum mampu mengangkat perekonomian yang sangat besar bagi nelayan Indonesia. Hal ini tidak terlepas dari kurang diperhatikannya Nilai Tambah (Value Added) dari rumput laut. Kita lebih senang menjual rumput laut dalam bentuk kering ke Filipina, China dan Negara lain, kemudian membeli Agar-agar, Carrageenan dan Pasta Gigi dan Produk lainnya yang menggunakan bahan baku rumput laut. Jika kita intim, dari hari paparan SEBFEX (  Seaweed International Business Forum & Exhibition)   2010, sebenarnya filipina yang dulunya mengekspor rumput laut kering, sekarang menjual derivatnya. Kalah bukan Indonesia. hhihihi


1. Rumput Laut Perubah Citra Rasa Dasar/ Seaweed and history of Taste
Sebagian besar dari rumput laut ini banyak digunakan sebagai sayuran makanan dan bahkan dijadikan sebagai bumbu masak seperti Nori, yang diteliti lebih lanjut dan diyakini merupakan salah satu rasa dasar yang baru setelah Manis, Asin, Pahit, Asam, dan UMAMI (Gurih).
Sun Drying Eucheuma cottonii/Kapphyus alvarezi Seaweed in Bali Island
Drying Seaweed for its Preservation 

Walaupun citarasa gurih ini banyak ditemukan pada makanan  laut (terutama daging), namun sebenarnya rasa ini pertama kali ditemukan dari rumput laut yang berasal dari Jepang yaitu Nori, atau lebih tepatnya KOMBU dasi. Rasa gurih sendiri berasal dari kandungan protein Glutamat dan lainnya sehingga, berkembanglah suatu bumbu masak MSG (Monosodium Glutamat) pada Ajinomoto, yang sekarang justru banyak diolah dari bakteri atau enzim yang menggunakan media hewan mamalia.

2. Rumput Laut Sumber Kertas/Seaweed as Paper

Beberapa penelitian telah dilakukan dan mengeluarkan paten terutama oleh negara Korea, dimana seaweed terbukti ambuh sebagai sumber selulosa yang dapat digunakan sebagai bahan pembuatan pulp dan kertas. Bahkan kertas yang dihasilkan dinyatakan sebagai "Very Fine Paper" Jadi tidak perlu ada lagi penebangan pohon untuk pembuatan kertas. Hebat bukan. Bahkan rumput laut itu ditanamnya gak pake pupuk,  bisa ditanam sepanjang tahun dan umum 45 hari sudah bisa di tanam. Bentar lagi mungkin baju kita dari rumput latu. Hehehe. Semoga saya berhasil menemukannya. Amin
Eucheuma cottonii, var. Grandong.  Cultivate in  Bali


Its apperance is green, but it is Red Seawed
3. Rumput Laut dan Global Warming/Seaweed and Global warming
Rumput laut diyakini sebagai salah satu alternatif pengurangan efek rumah kaca dari laut, sebagai tanaman, Algae ini membutuhkan CO2  untuk berfotosintesis dan menghasilkan O2, ya kurang lebih reduction effect rumah kacalah.
Hamparan Seaweed Seperti Petak Sawah Diladang/Imagine beach cover around with seaweed

 Sebenarnya banyak lagi manfaata dari rumput laut ini, misalnya bahan kosmetik alami, bahan makanan yang kenyal seperti agar-agar, jelly drink, jams, obat kayak fucoidan, serat makanan. Yang lebih ekstrim tim kami mencoba membuat beras imitasi dari rumput loaut. Doakan berhasil ya.

Selasa, 08 Februari 2011

Idealitas, target output baru, dengan kerjaan lama

Tan Malaka, Aku Rindu Sekali sama mu datok... Hari ini aku sangat rindu, aku bahkan menyebut nama mu
3 kali di Prajab ini. Butuh orang seperti mu, untuk menjadi controling yang kuat di negara ini.

Pernah menderngar tentang output?? atau lebih simpelnya keluaran ????
Secara aturan, ouput itu harus di wujudkan dengan cara mengadakan kegiatan yang sesuai denga apa keluaran yang ingin diperoleh.

Bahasa simpelnya begini, "Jika teman2 ingin membuat tempe belilah kedele, dan dibersihkan dan difermentasi menjadi tempe"

Saya seroang CPNS, sekerang teman, lagi mengikuti diklat Prajabatan. Bagai mana kesan teman2 sekarang tentang PNS ...? Buruk bukan....? Iya begitu juga bagiku. Adakah upaya untuk memperbaikinnya ...?

Masyarakat banya menganggap PNS itu banyak yang kourup, sehingga untuk memperbaiki dirinya pemerintah menetapkan untuk memperbaiki semua sektor agar tidak korup termasuk dengan pelatihan Agama dan Duniawi yang seimbang karena selama ini perhati untuk pelatihan itu hanya fokus untuk ke duniawi saja, bahkan tidak ke arah agama yang notabenenya menjadi batasan bagi kita, sehingga orang akan berpikir untuk menjadi korupsi.

Saya misalnya, bisa saya pinjamkan ke teman2 jadwal prajab saya. Mana dari sini yang mengarahkan kami ke agama. Kenapa output/cita2 untuk menjadikan PNS yang tidak korup tidak di dirikan dengan melatih calon karyawannya dengan disiplin agama yang kuat? Ada kah itu di diklat kami....? tidak ada kawan.   Kalain jangan berharap negara ini jadi bersih kalau model diklat ke arah duniawi ini yang sudah terbukti gagal dalam pembentukan PNS, masih dipertahankan hingga sampai sekarang

Sabtu, 29 Januari 2011

Kapankah Kita Siap Teman

29 Januari 2010,

Mungkinakah ini sindrom, atau ketakutan tidak beralasan, ataukah hanya takut kehilangan ke bebesan.

Berawal dengan berkumpulnya jejaka tulen di sebuah mall di jakarta tadi. Kita berbicara :."kapankah kami siap menikah" siap kah aku menikah sekarang ....?

Jejaka satu, perkerja yang cukup mapan, sudah punya calon dan sudah ditanyakan keseriusanannya, tapi masih ragu karena takut pernikahan membuat terkekangnya dia, tidak dapat membantu orangtua, tidak bisa adil, taku kehilangan kebebasa. Namun secara umur dan finacial di anggak cukup.

Jejaka d, perkeja pemerinta, gaji pas-paspasa, calon belum jelas, karir belum jelas, merasa siap menikah, yang ditakutkan tidak bisa membantu orangtua jika menikah nanti. Karena merasakan pengabdian yang masih kurang.

Kapankah kita siap? apakah benar penghasilan adalah faktornya ? jika benar uang kenapa pegawai rendahan
 masih bisa berkeluarga, punya anak istri dan masih bisa hidup. Bagaimana dengan penghasilan yang tidak bertambah secara signifikan walaupun sudah berkeluarga. Mereka tetap hidup, mereka tidak kelaparan, ternyata di sana ada barokah yang bertambah bukan nilai nominal yang bertambah.

Dikantor sering ditanyakan kapan menikah, dipengajian, pas malam minggu juga.
 Jawabnya hanya saya yang tahu

Kamis, 27 Januari 2011

Bagaimana Rasanya Tampa Facebook

Malam ini, malam yang cukup berat bagi ku, karena harus menyusun Laporan Akutanbilitas Kinerja Instansi Pemerintah apa lagi aku anak baru yang berlum pernah mendapatkan background tentang sistem pelaporanitu, aku adala peneliti. Tapi ya sudah lah...Thank God for This Great Lesson.

Karena kerja yang super berat ini, aku memutuskan untuk deactif sementra akun Facebook ku, sebenarnya akun itu sangat membantuku ketika otak ini buntu, tapi laporan ini bernar2 serius.

Rasanya berbeda sekali, tampa FB ini kada rasanya tenang sekali, karena privasi mulai terjaga karena akhir ini banyak sekali kegaduhan yang kuterima karena FB ini, bahkan ada yg protes langsung karena aku menghapus dari Friendlist yang alasanku karena meraka tidak membedakan urusan kerjaan dan kantor,, itu sangat menganggu.





Tapi sebenarnya aku sangat membutuhkan FB, setelah laporan ini selesai aku akan kembali mengaktifkannya.




Kawanua Hotel
Cempaka Putih

Selasa, 04 Januari 2011

Orang Minang Dulu dan Sekarang

Teman-teman dari suku jawa pernah bertanya kepada saya "Kenapa di Film dan sastra yang bernuansa Minangkabau cenderung melihatkan sistem perjodohan , kawin paksa dan kerasnya peran seorangdatuk" ya lihat saja lah Siti Nurbaya, Midun, Tenggelamnya Kapal Van Derwick. Dan ini melihatkan kerasnnya dan tertutupnya Adat Minang dari pandangan mereka.

Kalau dilihat dari cerita itu memang begitu menurut penilaian saya, namun banyak sekali hal-hal dari budaya minang terdahulu yang keras ternyata menyebabkan lahirnya pertentangan batin, "pemberontak" dalam pola pikir sehingga melahirkan suatu permikiran yang sangat berlian dan sangat kritis sehingga banyaklah terlahir orang ternama pada jamannya boleh kita lihat "Hatta, Tan Malaka, Buya Hamka, Abdul Muid, Rasuna said, Rohana Kudus, M Natsir, M Yamin, Sultan Syahri, Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, Marah Rusli, Taufiq Ismail, Asaat, Rosihan Anwar, Muchtar Lubis dan banyak lagi yang lainnya.

Hatta saja saya ambil contoh, beliau biasa terdidik dengan model kenagarian yang besar, dimana mamaknya (paman danlam bahasa padang) adalah orang yang sangat  tegas, begitu juga dengan kedua orangtuanya. Dia tidur di surau (mushola) dan belajar mengaji dimalam hari dengan buya (guru mengaji) seperti halnya dengan remaja minang dulunya, tidur di mesjid.

Lama-lama kebudayaan yang katanya keras itu meluntur, dimasa saya aja masih ada namanya didikan subuh, dimana kami yang biasa ngaji di TPA tiap hari pada sore hari dan pada hari minggu pagi ada yang namanya didikan subuh, sebelum subuh kami sudah harus berkumpul di langgar untuk sholat berjamaah dan prakte ibada, semua itu sangat membekas diotakm saya. Sekang itu suda tidak ada, anak2 hanya TPA pada hari tertentu saja, tidak ada lagi didikan subuh.

Satu lagi tradisi orang minang jika, sanga pria sudah cukup umur mereka akan merantau, merantau dalam arti bekerja, belajar dan menuntut ilmu agama. Dahulu merantau kita akan dibekali oleh orang tua, niniak mamak untuk berangkan dan setrusnya untuk biaya hidup kita harus berjuang sendri. Sekarang sudah berbeda, kami orang minang kuliah sudah kebanyakan mengandalkan beasiswa dan tidak sedikit mengandalkan wesel dan tranfer bank dari oranmg tua "termasuk saya".

Sekarang tradisi kami sudah melunak, sudah jarang didengar dijodohin, dikawin paksa, disuruh tidur disurau belajar silat dan belajar mengaji. Teman2 yang bukan orang minang mungkin melihat itu sebagai satu nilai kemoderenan karena ada keterbukaan. Tapi bagi saya itu negatif karena lihat orang minang sekarang "mana tokohnya, mana pahlawannya dan  mana sastrawannya yang bisa dijadikan panutan..?'. Sekarang kami ditempa terlalu luinak dan menjadi lembek, dulu mereka ditempa denngan keras menjadi pisau yang sangat tajam.

Semoga lahir tokoh minang yang nasional yang siap menantang dan membantu seperti tan malaka dan syahril, yang anti korupsi seperti hatta, yang fokal seperti rohana kudus dan abdul muis, yang di hormati umat seperti buyam hamka dan yang menjadi imam seperti Al Minangkawi, dan penyejuk hati seperti marah rusli dan taufik ismail.